Sunday, August 14, 2011

Luka Segar

Saya sakit hati. Seharusnya saya tidak mengetahui apapun yang tidak sepatutnya saya ketahui. Tapi sudah terlanjur. Ada luka segar di balik bra-ku. Ketika kusiram dengan air dingin rasanya perih. Apa yang harus saya lakukan? Ada yang tahu? beri tahu saya , please.. 


Rewind menuju 1 minggu yang lalu...

Saya muak denganmu. Bosan. Stuck. Saya butuh spasi. Benar-benar ingin melakukan segala aktivitas saya sendiri, tanpa secuil pun pikiran tentangmu. 

Ketika saya mulai berontak. Ada apa denganmu? Kamu membiru. Pucat. Lalu muntah. Disitulah semua terlihat. Unek-unek yang kamu tahan selama ini. kamu simpan rapat-rapat.

Entah, apa yang saya rasakan. Bingung. Shock. Merasa bersalah itu pasti. semua penilaian tentangmu berubah, total. Kamu hanya korban, sayang. Akibat dari pikiran busuk mereka. Apa yang sebenarnya ada dalam otak mereka? bukankah orang tua selalu menginginkan anaknya bahagia? Kamu sudah besar, dan ini saatnya menentukan jalan hidupmu sendiri.

Oh, mungkin saya terlalu egois. terlalu naif. Kalau dipikir sejenak, ada sedikit benarnya juga apa yang mereka pikirkan. Mereka ingin yang terbaik untukmu. Walau dengan cara yang salah. Mereka adalah orangtuamu. Mereka pastinya lebih tahu mana yang terbaik buat kamu.

Saya benci. Melihat kamu melakukan semua itu untuk mempertahankan apa yang telah kita bangun bersama dengan rasa sakit, memilukan. Sungguh, saya tak tahan melihatmu seperti ini. Dengan berat hati, melepasmu mungkin adalah jalan terbaik bagi kita berdua. Saat itulah, saya menyadari betapa besar rasa sayang padamu. Terlalu besar, kalau saat itu juga kita harus berpisah. 

Selang 3600 detik, hatiku masih basah. Masih tidak percaya. Apa benar kita memang berpisah? Ah, terlalu sakit membayangkannya. Hape bergetar. Itu kamu. kamu bilang hanya ingin memastikan keadaanku. Aah, kamu membuat rasa sayang ini semakin melar. Jauh di angan, kamu masih di sampingku. Lalu kamu bilang, tidak akan ada rasa sakit lagi jika saya tetap disampingmu. Iya. Saya juga merasakan hal yang sama. 

Sungguh, sayamencintaimu tanpa spasi tanpa titik 

Kamu satu-satunya. Kamu pertama. Kamu terakhir. 

Im not a perfect girls for you, but I love you perfectly. 


Kemarin, tidak sengaja membaca pesan di sent item-mu kepada seorang teman. Apa saya sungguh hina untuk berada di sampingmu? Apa saya tak pantas? Tidak ada yang tahu. Serendah itukah saya dipikiran mereka? Bilang pada mereka, apa mereka punya Tuhan? Apa mereka mengenal arti bahagia? Pada hakikatnya, konsep bahagia bukan harta. Apa mereka juga tahu latar belakang keluargaku? Kami tidak mengenal harta, kami mengejar bekal untuk kehidupan kelak di dunia kekal disana.

Astaughfirullah. Saya sakit hati. Seharusnya saya tidak mengetahui apapun yang tidak sepatutnya saya ketahui. Tapi sudah terlanjur. Ada luka segar di balik bra-ku. Ketika kusiram dengan air dingin rasanya perih. Apa yang harus saya lakukan? Ada yang tahu? beri tahu saya , please..

No comments:

Post a Comment