Thursday, November 10, 2011

Hujan

Kau mengharu biru. Berlari menuju tengah hujan deras. Memamerkan luka di tubuhmu. Menjauh dariku. Aku berteriak memanggilmu. Tapi kau membisu. Kubawa payung, untuk memayungi tubuhmu. Tapi kau menghindar. Sengaja. Kau berlari lebih jauh. Tapi aku masih bisa melihatmu. Aku tak tahan melihat pemandangan semacam ini. Kau, luka, hujan. Saling bersetubuh.

Kau tahu? Aku lebih tersakiti melihatmu seperti ini. Gagal. Aku ingin menjadi senja saat kau pilu. tapi kau memilih hujan. Bukankah kita akan selalu belajar membalut luka? Itu dulu yang kau bilang. Lalu kenapa sekarang kau biarkan lukamu mengering di tengah hujan?

Seharusnya kita balut bersama luka itu. Seharusnya aku ada di sisimu, menghiburmu. Seharusnya aku adalah obat penyembuh lukamu. Seharusnya aku adalah payung di tengah hujan, melindungimu dari titik-titik air yang menggelitik tubuhmu manja. Seharunya aku adalah pelangi setelah hujan turun.

Kau pergi. Berlari. Meninggalkanku dengan hujan tebal.

Kau terluka, aku lebih tersakiti. Sudahi semua. Pergilah

Wednesday, November 9, 2011

Pembunuh

Kupu-kupu itu mati
Banyak bangkainya diperutku
Kau yang membunuh

Thursday, November 3, 2011

Belajar(an)

Aku telah belajar
Bagaimana berjalan di atas jalanku sendiri
Bagaimana bersetubuh dengan sakit agar menjadi sebuah tawa

Aku telah belajar
Bagaimana berdiri di atas laut berombak
Bagaimana tersenyum di belakang sebuah api
Ketika semua orang menyulut api di belakang tubuhku

Aku telah belajar
Bagaimana merasa nyaman ketika semua orang bertubi-tubi melemparkan batu ke dalam hatiku
Bagaimana mencari sebuah tawa dalam air mata

Aku telah belajar
Bagaimana menikmati setiap detak detik waktu bersamamu
Bagaimana menjadi senja disaat semua orang pilu

Aku telah belajar
Bagaimana menulis ketika tidak ada pena
Bagaimana berbicara tanpa kata
Bagaimana melukis sebuah fasia tanpa warna

Aku telah belajar
Bagaimana memenangkan sebuah permainan
Bagaimana memahami ribuan warna manusia
Bagaimana menjadi hujan bagi teman saat mereka mengharu

Aku telah belajar
Bagaimana merasakan pare menjadi manis disaat tidak ada gula
Bagaimana menjaga kesetiaan teman

Aku telah belajar
Bagaimana menjadi kuat dan kokoh seperti tembok
Bagaimana bisa berdiri tegak dalam waktu yang lama
Dan untuk mencintai keluargaku, negeriku dan semua yang menaungiku

Aku telah belajar
Bagaimana selalu jujur dan tidak pernah berbohong
Bagaimana menghargai privasi setiap orang dan tidak pernah menguntit

Aku telah belajar
Bagaimana menjadi lebih peka, juga berprinsip
Bagaimana merasakan luka orang lain walaupun disimpan jauh di dalam
Dan
Semua yang ada di dalammu, hanya bersamamu

***


Ditulis dalam rangka hari jadi. Happy Birthday to me !

Thursday, October 27, 2011

Kelaut aja!

Kata Bang Raditya Dika: cowok ada 2 macem. kalo gak brengsek, ya homo.

Jadi, hitungannya pria homo itu 'sakit', pria 'sehat' itu brengsek.

Homo. Saya rasa bukan topik yang menarik untuk dibahas kali ini.

Brengsek. Coba kau tanya kepada wanita, apakah pria itu brengsek? Temukan jawabnya. Seragam. Apa yang ada di pikiran mereka? Mungkin sedikit kenangan kelam, atau bahkan banyak. Bisa jadi hatinya kini telah diculik oleh pria brengsek. Coba kau tanya lagi, hendak kau apakan si pria brengsek? Kelaut aja! jawab mereka.

Topik ini mungkin sudah terlalu sering dibahas. Tapi, tunggu. Hey, ada apa dengan laut? Apa salah laut? Laut penuh dengan pria brengsek. Sesak. Mungkin disana mereka belajar merasakan borok wanita. Asin. Biarkan otaknya dicuci dengan luka wanita. Biarkan jiwanya dingin oleh air laut. Biarkan hatinya rontok dimakan ikan.

Ketika wanita menangisi si pria brengsek, airmatanya jatuh ke pipi lalu turun ke aspal lalu hangut ke sungai dan bermuara di laut. Memang benar, laut tempat pria brengsek berkumpul. Siapa pria yang kita cintai? Si pria brengsek. tak ada pria yang tak brengsek.

Hey kau, selamat mencintai pria brengsek :)

Monday, October 24, 2011

Tuesday, October 4, 2011

Suwe Ora jamu

Suwe ora jamu. Jamu godhong tela. Suwe ora ketemu. Ketemu pisan gawe gela

Translation
Doesn't drink jamu for long time. Jamu is made from cassava leaves. Doesn't meet for long time. Meet once makes disappointing

Tuesday, September 27, 2011

Sedang apa kita ini?

Sedang apa kita ini? Kau bahkan diam. Tak menatapku. Menyaksikan mereka menari. Lalu aku? memandang punggungmu dengan air mata. Hatiku basah. Tidakkah kau ingat aku setia menantimu seperti pelangi menunggu hujan reda? Kupengang lenganmu erat. Tapi, rautmu tak bersuara. Aku menangis tapi kau tidak juga mengerti. Aku menari, kaupun tak juga mengerti. Haruskah aku menangis sambil menari?

Lihatlah di sekelilingku. Gerimis menarikku lemah. Titik-titik airnya berteriak. Melukai tubuhku. Kutarik lenganmu agar kita lebih dekat. Lebih hangat. Tapi kenapa kau semakin menjauh? Jangan kabur. Temani aku disini. Aku benci tatapan gerimis itu. Tatapannya mengejekku. Mereka membencimu, sayang.

Sedang apa kita ini? Sudahi sajalah. Tak ada cahaya di depan sana. Tapi sebelumnya, aku ingin menyusup ke dalam nadimu. Tenggelam berlama disana. Mendengar gelisah jantungmu. Mencari senja yang telah kau culik.

Beri aku sebuah jeda. Seperti koma, tanda tanya atau bahkan titik. Tidak terlalu rapuh. Biar tubuh kita merasakan pahit. Biar nalurinya mencari keseimbangan. Merasakannya hingga kenyang.