Kau mengharu biru. Berlari menuju tengah hujan deras. Memamerkan luka di tubuhmu. Menjauh dariku. Aku berteriak memanggilmu. Tapi kau membisu. Kubawa payung, untuk memayungi tubuhmu. Tapi kau menghindar. Sengaja. Kau berlari lebih jauh. Tapi aku masih bisa melihatmu. Aku tak tahan melihat pemandangan semacam ini. Kau, luka, hujan. Saling bersetubuh.
Kau tahu? Aku lebih tersakiti melihatmu seperti ini. Gagal. Aku ingin menjadi senja saat kau pilu. tapi kau memilih hujan. Bukankah kita akan selalu belajar membalut luka? Itu dulu yang kau bilang. Lalu kenapa sekarang kau biarkan lukamu mengering di tengah hujan?
Seharusnya kita balut bersama luka itu. Seharusnya aku ada di sisimu, menghiburmu. Seharusnya aku adalah obat penyembuh lukamu. Seharusnya aku adalah payung di tengah hujan, melindungimu dari titik-titik air yang menggelitik tubuhmu manja. Seharunya aku adalah pelangi setelah hujan turun.
Kau pergi. Berlari. Meninggalkanku dengan hujan tebal.
Kau terluka, aku lebih tersakiti. Sudahi semua. Pergilah