Lukaku perlahan mulai mengering. Mungkin terlalu lama kusimpan hingga kini rasanya sangat asin. Entah, apa yang sebenarnya kini saya rasakan. Begitu banyak kata yang ingin saya sampaikan padamu. Tapi entahlah, saya keburu tidak nafsu.
Saya terlalu sering merasakan pahit. Ingin rasanya memutar ulang semua dan kembali pada masa dimana saya lebih kuat dari dinding. Dan sekarang saya jatuh menjadi pecahan-pecahan kecil ketika kamu perlahan menyentuhku. Menghambur bersama asap, seperti kamper di atas api.
Saya telah kehilangan semua harapan untuk menjadi normal kembali. Tidak ada kekuatan untuk melawan. Saya hanya akan tetap menjadi seorang budak hingga rasa pahit ini hilang. Hingga saya bisa merubah pikiranmu. Dan dapat dipastikan, itu akan memakan waktu yang sangat panjang.
Saat semua kebodohan ini dimulai, ada semacam getaran setiap melihat namamu di layar hape, atau saat tangan kita bersentuhan. Tapi, kini saya telah kehilangan getarnya. Semua serasa begitu pelan dan sunyi. Sangat hambar. Entah karena rasa kangen yang bertumpuk-tumpuk. Atau pahit yang membuat semua menjadi hambar.
Saya bosan. Saya sedang balajar untuk kehilanganmu. Banyak hal yang urung saya sampaikan padamu. Saya hanya terlanjur bosan. Titik! Saya rasa kita bisa memulai suatu kehidupan baru.
Bodoooooohh! Saya adalah wanita bodoh yang terlanjur jatuh cinta dengan orang dungu sepertimu. Lalu, kita berdua terdampar di dalam detak yang kini bergerak sangat lambat. Saya ingin sekali merobek angka-angka di jam kertas di ujung meja itu. Saya ingin sekali membunuh detak-detak lamban, yang merayap, mengejek, lalu menertawai saya. Saya ingin sekali mengintip ke dalam otakmu, demi mengecek saja: “Apa kamu siap kehilangan?”
Kali ini saya betul-betul akan memberi jarak denganmu. Saya akan membiasakan kamu untuk mengenal apa itu kehilangan. Ada waktu untuk berlari, lalu ada waktu untuk berhenti, minum air sejenak, tarik nafas pelan-pelan. Ada waktu untuk mengejar, tapi ada waktu untuk berdiam diri dan dikejar. Ada waktu untuk mencintai penuh-penuh. Lalu ada waktu untuk menarik cintamu, sedikit demi sedikit. Ada waktu untuk menemukan. Lalu ada waktu untuk kehilangan. Selamat menikmati kehilangan, hei kamu!
No comments:
Post a Comment